Selasa, 28 Februari 2012

Pentingnya Bersyukur


PDF Print E-mail


"Saldoku di bank tinggal tiga juta. Waktu gajian masih lama. Gimana nih, banyak banget yang harus dibayar. Belum iuran buku tahunan, les baca si Dede, les Inggris Kakak..." Dari sudut mata, aku menangkap wajah lelah suamiku. Tapi, ocehanku terus mengalir. Toh, kami sama-sama lelah. Sama-sama baru pulang kerja.

Dan selama tujuh tahun perkawinan, rasanya belum sekalipun aku bisa merasa nyaman soal kondisi keuangan kami.
"Sampai kapan ya, aku harus deg-degan begini?" Lagi-lagi, aku melontarkan serangan. Dia hanya menatapku sekilas, "Kamu tahu, aku juga berusaha." Dan ia melangkah keluar, meninggalkanku seperti biasa setiap kali pembicaraan menyentuh soal uang.
Kondisi keuangan kami tak bisa dikatakan bermasalah. Jika melihat 'ke bawah', bisa dikatakan kami cukup beruntung. Kami sama-sama bekerja, dan masih tinggal di rumah pinjaman orang tua. Tapi memang, keputusanku tiga tahun lalu untuk mulai berinvestasi di sebuah rumah mungil, membuat kami harus mongencangkan ikat pinggang. Belum lagi, cicilan sebuah mobil keluarga yang memang kami butuhkan untuk transportasi sehari-hari.
Praktis. sebagian besar pendapatan kami tersedot ke cicilan-cicilan itu. Untuk hidup, kami menggunakan pendapatan ku. Juga untuk pengeluaran tak terduga lainnya. Jujur, setahun belakangan aku mulai kewalahan. Semakin banyak biaya tak terduga yang muncul. Terlebih, anak-anak kami semakin besar. Si sulung di SD, si bungsu di TK.
Jadilah kami sering sekali ribut soal uang. Aku tahu, ini tabu. "Sudahlah. Rejeki sudah ada yang mengatur," kata ayahku sekali waktu. Tapi aku semakin mangkel. Apalagi, sudah bertahun-tahun aku mendesak suami untuk mencari pekerjaan baru. Sepuluh tahun di kantor yang sama! Lompatan karier - berikut pendapatan - pasti akan lebih mudah diraih di perusahaan baru. Dan aku yakin ia mampu. Mendengar karir suami teman-temanku terus melesat, makin gemas rasanya. Hubungan kami semakin tegang. Kami makin jarang berkomunikasi, sama-sama memendam kesal.
Suatu hari, datang kabar duka. Seorang teman pria, sahabat semasa kuliah, sakit keras. Aku dan teman-teman bergegas menjenguknya. Entah kenapa, perasaanku sungguh tak tenang. la tampak sangat lemah. Itu sebabnya sesibuk apapun, aku menyempatkan menjenguknya lagi dan lagi. Benar saja, dua minggu kemudian ia berpulang. Kepergiannya sungguh mendadak, membuat kami semua terpukul. Hatiku tersayat melihat kedua buah hatinya. Usia mereka persis usia anak-anakku. Tujuh dan lima tahun. Di usia sekecil itu, mereka harus kehilangan ayah, pencari nafkah utama keluarga. Sekaligus kehilangan kasih sayangnya.
Di pemakaman, aku menatap istri almarhum bersimpuh di pusara, memeluk dan memangku anak sulungnya. Satu tangan lain membelai nisan suaminya. Tak setitik pun air mata mengalir di pipinya. Ia berusaha kuat, demi kedua anaknya. Meskipun aku teramat tahu, betapa ia memuja suaminya. Betapa ia sabar merawat dan mendampingi sahabat kami selama sebulan sakitnya. Betapa perpisahan yang mengejutkan ini membuatnya hampa. Sepeninggal almarhum, 'lumbung' mereka tinggal sebuah toko kebutuhan pokok yang selama ini ia kelola. Tapi ia tetap tegar. Dan aku teramat sangat kagum padanya.
Sepulang dari pemakaman, aku menghambur, mencari suamiku. Ingin sekali mengucap kata maaf. Tapi sulit. Air mataku menitik, membayangkan di luar sana, ada seorang ibu yang harus menidurkan anak-anaknya tanpa kehadiran pelindung keluarga, Membayangkan ia harus berjuang sendiri, menapaki jalan panjang, membangun kehidupan keluarga kecilnya yang kini timpang. Sungguh tak layak aku mengeluh. Ampuni aku, Tuhan. Maafkan aku, suamiku.

Tidak ada komentar: